Mari Sucikan Hati

24 Okt    Opini  

Mari Sucikan Hati

Oleh : Asep Wahyu Mulyana

Pertama-tama marilah kita panjatkan Puji dan Syukur kehadirat Allah swt, yang telah memberi kita nikmat yang begitu luar biasa, yakni nikmat Iman dan Islam. Salawat dan salam semoga tercurahkan pada Nabi Besar Kita Muhammad SAW, kepada Keluarganya, para Sahabatnya, Pengikutnya, dan kepada kita sekalian.

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang dinantikan oleh umat Islam. Bulan yang penuh dengan warna-warni ibadah dan ketaatan, dan inilah salah satu bukti keindahan dan kesempurnaan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Dalam menyambut Ramadhan kali ini, seperti biasa bersih-bersih selalu menjadi agenda awal sebelum memasuki Ramadhan. Sungguh sebuah karunia lebih, apabila Ramadhan kali ini, kita masih bisa bertegur sapa dan menjumpainya, masih diberi kesempatan guna bersih-bersih. Bersih-bersih identik dengan kesiapan, terutama menyangkut diri. Bila pada bulan-bulan di luar Ramadan, agenda bersih-bersih, mungkin bersifat seadanya, rutinitas belaka, namun dalam kesempatan menjelang Ramadhan, bersih-bersih lebih dari biasanya. Bersih-bersih itu sendiri identik dengan “yang kotor”, makanya yang kotor itu sebelum Ramadhan perlu untuk dibersihkan, agar suasana Ramadhan suci, diri bisa menyambut berbarengan menjalaninya dengan kesungguhan. Dosa dalam bentuk perbuatan maupun perkataan yang telah kita lakukan, kadang tanpa kita sadari menyakiti saudara sesama muslim, dosa hati yang telah berprasangka buruk terhadap orang lain, dosa jiwa telah menjauhi ajaran Islam, dan dosa tubuh yang tak mampu menahan nafsu. Itu semua harus kita sadari bahwa dosa yang telah kita lakukan adalah musibah dan bencana bagi kehidupankita ini. Untuk itu segera bertaubat jangan tunggu lagi.

Kesungguhan untuk membersihkan hati, umum dilakukan dengan pelafatan kata-kata bila ada salah-salah dalam ucapan maupun dalam tindakan. Sebenarnya tidak hanya hati, inderawi dan akal pikiran pun perlu melakukan hal yang sama, untuk dibersihkan. Sekiranya hati, indrawi dan akal pikiran sudah dikata bebas dari “yang kotor”, secara badaniah pun tak kalah untuk pula dibersihkan.

Soal urusan bersihkan hati, karena hati orang siapa yang tau?, maka diri sendiri yang paling tau bagaimana cara membersihkannya. Artinya orang itu tidak lagi menjagokan egonya, latar belakangnya, pekerjaanya, posisinya, kepemilikannya dan menyebut kesemuanya yang menyangkut siapa diri ini. Semua yang dimiliki, bila memang hati bersih, pasti ia akan menarik kesimpulan “semua ini hanyalah titipan Ilahi”. Suatu saat nanti pasti akan berkurang, habis, lenyap, tidak dibawa mati.

Menyangkut sucikan diri adalah badan atau tubuh atau jasmaniah. Dalam rutinitas keseharian, barang dua sampai tiga kali kita melakukan pembersihan badan dengan cara mandi. Nah, menjelang Ramadhan perhelatan padusan dalam rangka membersihkan badaniah. Karena sekujur tubuh ini adalah barang paling bisa dijamah, kasat mata, dapat diraba, maka dengan bermandi, secara jasmaniah akan terlihat bersih. Namun bersih badan atau tubuh atau jasmaniah belum tentu suci. Tapi suci mampu membersihkan segalanya sekalipun padanya kotor.

Alangkah malang diri kita, jika bulan yang penuh berkah ini berlalu begitu saja, tanpa curahan ampunan dan pahala dari-Nya. Semoga Allah mempertemukan kita dengan bulan yang mulia itu, melarutkan kita dalam kenikmatan beribadah dan bermunajat kepada-Nya, menangisi dosa dan kesalahan kita. Ya Allah Ya Rabbi, pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan 1439 H, kami semua hamba-Mu ingin memperbaiki hati dan memohon cahaya untuk jiwa yang hampir kelam tanpa cahaya dari-Mu. Izinkanlah hamba untuk mensucikan hati membersihkan jiwa untuk menjadi pribadi yang baru dan mengisi setiap detiknya dengan amal kebaikan.” Amin ya Rabbal’alamin.

MARHABAN YAA RAMADHAN

“Selamat menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan….

Mohon maaf atas segala kesalahan”