SELF DISRUPTION - Bagaimana Perusahaan Keluar Dari Perangkap Masa Lalu Dan Mendisrupsi Dirinya Sendiri Menjadi Perusahaan Yang Sehat

Disruption pada dasarnya adalah perubahan, tetapi bukan sembarangan perubahan. Suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat hadirnya “masa depan” ke masa kini/sekarang. Perubahan semacam itu membuat segala sesuatu yang semula berjalan dengan normal-normal saja dan serba teratur, tiba-tiba harus berubah dan berhenti secara mendadak akibat hadirnya sesuatu yang baru, contoh usaha mikro sablon manual/tradisional tiba-tiba tidak ada pelanggannya karena beralih ke sablon dengan menggunakan komputerisasi. Dengan demikian apabila usaha mikro tersebut adalah debitur salah satu BPR yang bermitra dengan PT. Jamkrida Banten maka akan berpotensi untuk mengajukan klaim karena usahanya macet.  Di sini yang dimaksud sebagai sesuatu yang baru bisa banyak hal seperti teknologi baru, proses bisnis yang baru, para pemain/pelaku baru, aplikasi-aplikasi baru, model bisnis yang baru, atau kombinasi dari berbagai faktor tersebut. Perubahan semacam inilah yang membuat para petahana atau pemain lama bak kebakaran jenggot. Mereka tidak  tahu  cara menanggapinya, itu karena mindset mereka, cara-cara berpikir mereka, masih menggunakan pola-pola atau dengan cara-cara lama, cara-cara konvensional. Padahal perubahan yang tengah terjadi tidak konvensional. Sering kali perusahaan dan birokrat amat terpaku pada technical capabilities. Teknologi khususnya digital technology memang dapat dibeli. Namun semua itu hanya alat. Sering kali masalahnya bukan disitu.melainkan pada manusia yang menggunakannya. Misalnya tak banyak Pemilik perusahaan yang tahu bahwa software SAP (aplikasi manajemen aktivitas harian) dari sebuah organisasi atau perusahaan yang mereka beli dengan sangat mahal dan sangat powerful   itu, antara 50%-75% gagal diterapkan dibanyak perusahaan. Apa penyebabnya? Perkara leadership.

 McAffee, Bonnet & Westerman (2014) menemukan selain digital capability, disruptor memerlukan leadership capability.

Dengan melihat kedua unsur itu McAffee dkk. (2014) memetakan empat tipe perusahaan yang disebut sebagai digital masters, fashionitas, beginners, dan konservatif.

 

                                                                                                 Leadership Capability

Di sisi kanan atas pada bagan diatas, kita melihat champion-nya disebut Digital Masters. Di kiri bawah kita menyebut mereka Beginners atau para pemula.

Digital Masters membangun dua kekkuatan sekaligus, mereka menguasai Digital technology punya kapabilitas teknologi yang memadai tetapi secara alamiah juga membangun upaya dalam digital leadership yang Tangguh. Mereka tahu bahwa dunia kerja yang baru itu adalah “dunia bermain”. Dunia bermain seperti masa kita ditaman kanak-kanak yang kreatif dan penuh semangat. Mereka tahu bahwa pekerjaan-pekerjaan kantoran akan digantikan oleh virtual jobs, terjadi molekularisasi yang besar dan jarak telah mati. Mindset dan kultur korporasi mereka benar-benar disruptif.

Digital leadership tampak dari visi perusahaan terhadap proses digital yang sangat kuat dan mereka bekerja keras menerjemahkan visi digital it uke dalam langkah-langkah konkret.

Berbeda sekali dengan Beginners yang serba tidak digital. Tak memiliki visi teknologi tidak berani membeli teknologi, juga tak memiliki kapabiitas digital leadership yang memadai. Persis seperti perusahaan-perusahaan tua lain yang kita kenal.kultur bisnisnya pun dibangun dalam bingkai kultur lama yang mengabaikan kultur gidital sebagai  “ mainan”dari generasi para penerus.

Lalu diantara keduanya ada fashionistas dan konservatif. Fashionistas adalah perusahaan atau institusi yang gagah-gagahan seperti anak-anak  muda yang ikut-ikutan membeli “sesuatu” yang baru. Mereka ingin terlihat keren karena memiliki gadget-gadget atau teknologi baru. Digital technologi-nya luar biasa . mereka mengeerti teknologi-teknologi baru dan cepat membelinya. Namun saying tidak ada digital leadership.

Ini berkebalikan dengan konservatif yang lamban membeli teknologi baru, sangat berhati-hati, tetapi perlahan-lahan kepemimpinannya sudah berada di dunia digital.

Pertanyaanya Jamkrida Banten Masuk tipe perusahaan apa ????

Sumber : Rumah Perubahan Rhenald Kasali.